Pada Masyarakat Lampung Barat, pesta sakura sudah dikenal seluruh masyarakatnya sebagai pesta budaya tradisional yang dilaksanakan setelah hari raya Idul Fitri biasanya selama 7 hari, setiap hari bergantian dari Pekon ke Pekon yang lainnya. Pesta sakura dalam pandangan secara umum kegiatan ini hampir sama dengan pentas teater luar ruang dengan pelaku adalah masyarakat, dimana gambaran kegiatan budaya ini adalah identik dengan kemenangan, kebebasan dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi.
Tujuan diadakannya pesta sakura ini adalah untuk meluapkan kemenangan, kebebasan, dan kegembiraan setelah menjalankan ibadah puasa ramadhan.dan ajang silahturahmi bersama seluruh masyarakat Pekon. Pesta sakura ini dilakukan tidak menetap tempatnya, melainkan berpindah-pindah, dari satu Pekon ke Pekon lainnya. Dalam bersakura, seseorang menggunakan kelengkapan busana sebagai penutup identitasnya. Secara khusus dalam kelengkapan busana, yakni topeng yang digunakan pesakura terbagi dua, yakni helau dan kamak yang menyimbolkan makna tertentu. Dalam bahasa Indonesia, helau artinya bagus, sedangkan kamak artinya kotor atau buruk.
Pesta sakura merupakan salah satu bentuk dari komunikasi tradisional, karena pesta sakura merupakan suatu acara adat yang berlangsung lama secara turun temurun pada masyarakat Pekon Canggu Kabupaten Lampung Barat.
Pesta sakura dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri yang dilaksanakan berpindah-pindah selama satu minggu, dimulai dari satu Pekon ke Pekon lainnya. Selain itu, pesta sakura saat ini dipakai pada saat memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Dalam pelaksanaan pesta sakura seluruh masyarakat saling berkomunikasi, karena pesta sakura diadakan setelah Hari Raya Idul Fitri yang oleh masyarakatnya dijadikan
sebagai ajang silaturrahmi kepada sesama tetangga, teman, maupun saudara.
Selain itu, pesta sakura juga sebagai ajang perkenalan dan hiburan. Kelengkapan busana, secara khusus topengnya, menyimbolkan makna tertentu. Didalam bersakura, topeng yang digunakan ada yang berupa kain dan juga berupa kayu. Bila yang terbuat dari kain menyimbolkan kebaikan atau bagus, sedangkan yang terbuat dari kayu menyimbolkan jahat atau kotor.
Sumber : MASAGUS TOMI AREDHO